Disertasi Abdul Aziz, Sebuah Kesalahan Logika

Jakarta, Swamedium.com — Disertasi mahasiswa program doktor UIN Sunan Kalijaga Jogja, Abdul Aziz yang berjudul Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital menuai kontroversi. Kalayak ramai menyebut pendapat ini sebagai legalisasi perzinahan. Mendalilkan amal, bukan mengamalkan dalil.

Abdul Aziz menyimpulkan dari pendapat Syahrur bahwa hukum budak (milkul yamin) di jaman sekarang ini bisa disamakan dg partner (gampangnya: Pacar atau selingkuhan). Jika budak dapat digauli tanpa akad nikah maka sbg solusi problem masyarakat saat ini, konsep menggauli budak tanpa akad nikah bisa diterapkan pada partner (pacar). Meskipun beberapa penguji tidak setuju dengan kesimpulan tsb tapi Abdul Aziz tetap diluluskan dg predikat Sangat Memuaskan.

Sebenarnya kasus disertasi ini tidak begitu mengherankan krn UIN Jogja dan juga UIN2 yg lain juga sdh meluluskan skrpsi, tesis dan disertasi serta jurnal2 dg topik serupa. Kalau disertasi ttg argumen pluralisme agama (paham yg menganggap semua agama adalah benar) saja diluluskan, apatah lagi ttg masalah fikih. Adakah yg lebih berat dari persoalan aqidah dalam agama? Belum lagi soal spanduk Tuhan Membusuk, Selamat Datang di Area Bebas Tuhan, lafadz Allah diinjak2 dosen, dsb.

Jika kita tilik topik ini, hukum perbudakan mmg spt itu. Budak boleh digauli tanpa akad. Tp jaman sekarang sdh tdk ada perbudakan karena ajaran Islam tegas memberantas perbudakan. Di antara perbuatan mulia atau bentuk hukum kafarat adalah membebaskan budak. Berarti fakta budak jaman sekarang tidak ada dan hukumnya pun menjadi tidak berlaku (tidak ada illat, tidak ada hukum).

Lalu Abdul Aziz berusaha menyamakan kasus hukum budak ini dg partner. Partner yg dimaksud tentu bukan pasangan yg sah menurut Islam, seperti pacar (bagi yg belum menikah), selingkuhan (bagi yg sdh nikah) atau pelacur. Mempersamakan antara perbudakan dg partner jelas tindakan bodoh. Bentuk qiyas (analogi) yg dilakukannya tidak sama. Tidak ada kesetaraan di situ sbg syarat dari qiyas. Kalau kita belajar ilmu logika ada istilah logical fallacy (kesalahan logika), di antara kesalahan itu adalah qiyas ma’al faariq yaitu menganalogikan sesuatu dengan sesuatu yang lain, tapi tidak sebanding (setara). Contohnya kita dibilang tidak bisa/mahir bahasa Inggris, sedangkan di Inggris anak2 kecil saja sdh bisa bhs Inggris. Ini penyamaan yg tidak setara. Budak dan pacar persamaannya di mana?



sumber SwaMedium https://www.swamedium.com/2019/09/03/disertasi-abdul-aziz-sebuah-kesalahan-logika/

Post a Comment

0 Comments