Cerita Ustaz Tengku yang Membuang Gitar ke Sungai



Sejak kecil saya diajarkan Bapak saya bermain musik. Beliau sangat piawai memainkan hampir seluruh alat musik. Sejak kelas 2 SD saya sudah diajarkan dasar dasar bermain Organ, Gitar, dan Alat Tiup( Harmonika dgn Clep, dan Flute Bambu). Gitar Klasik sudah saya pegang sejak kelas 3 Sekolah Dasar.

Sementara Ibu mengantarkan saya mengaji ke Surau sejak Usia 4 tahun. Beliau ingin saya menjadi Ahli Agama.

Titipan Bapak yang meminta saya setiap hari berlatih musik 3 jam sehari, diimbangi Ibu dengan meminta saya membaca Al Qur'an sehari satu Juz. Usia 8 tahun saya sudah menjuarai MTQ di Kecamatan dan berlanjut ke tingkat Kota Medan. Usia 9-10 tahun mewakili Kota Medan di MTQ tingkat Propinsi Sumatera Utara. Hampir setiap acara keagamaan di Sekolah di Desa2 dan Kecamatan di Kota Medan saya diundang sebagai Qori'nya. Usia 16 tahun menjadi guru Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Tanjung Sari, Medan. Dan, menjadi khotib Jum'at di banyak masjid.



Perubahan terjadi saat saya ikut Festival Bintang Radio Televisi tahun 1980. Menjadi salah satu penyanyi terbaik dan dikontrak Max FS Sapulete sebagai penyanyi Orkestra RRI Medan. Rabu rekaman lagu Pop dan Sabtu Ganjil Rekaman lagu Keroncong.

Sabtu genap rekaman lagu Melayu. Tahun 1982 memenangkan Lomba Lagu Melayu se Sumatera. Sempat menelurkan 6 buah album bersama ibu Nur'ainun dan Laila Hasyim. Rutin tampil menyanyi di TVRI Medan.

Hidayah datang tahun 1988. Saya menjadi penterjemah rombongan dakwah 1 tahun dari Pakistan. Sejak itu aktif khuruj 3 hari tiap bulan, 2 kali 40 hari dalam setahun.
Puncak hidayah, gitar saya buang ke sungai April 1988, dan saya fokus ke bidang dakwah hingga saat ini. sempat berguru kepada hampir semua Ulama Senior Al Washliyah di Medan.

Semoga Allah merahmati hingga akhir hayat. Amin

Medan, 7 Juni 2019
Tengku Zulkarnain

sumber Alumni 212 https://www.alumni212.id/2019/06/cerita-ustaz-tengku-yang-membuang-gitar.html

Post a Comment

0 Comments